HOW TO BE SUCCESS

Hendra Next Generation (WordPress.com)

Motivasi yang Membangkitkan Pelayanan

Posted by HendrA pada September 22, 2008

MOTIVASI MENDORONG GURU BERJUANG UNTUK MENCAPAI VISI

Seorang guru dikenal dekat dengan murid-muridnya, bahkan ia sangat sering berkunjung ke rumah setiap muridnya. Guru tersebut sangat dicintai anak-anak karena ia selalu rajin membuat berbagai kegiatan kreatif di kelas. Tentu saja, apa yang ia lakukan mengesankan banyak guru sehingga mereka bertanya: “Apa motivasi pelayananmu?” Ia menjawab, “Motivasi pelayanan saya adalah ingin memberikan persembahan pelayanan yang terbaik bagi Tuhan karena Tuhan Yesus juga sudah memberikan persembahan yang terbaik bagi saya, yaitu diri-Nya sendiri, sampai mati di kayu salib.”

Jadi, apa motivasi itu? Motivasi adalah hal-hal yang mendorong seseorang bersedia melayani Tuhan untuk mencapai visi yang Tuhan berikan kepada kita. Motivasi menjadi “motor” untuk mencapai tujuan.

BERBAGAI MOTIVASI GURU DALAM MELAYANI TUHAN

Guru yang satu dengan guru yang lain bisa memiliki motivasi berbeda. Tetapi asal motivasinya benar, semuanya itu menjadi pendorong yang membangkitkan semangat melayani sampai mencapai tujuan (visi).

Ada tiga golongan motivasi.

  1. Motivasi yang kurang berkualitas.
  2. Motivasi rohani (motivasi yang berkualitas).
  3. Motivasi yang salah.

Contoh motivasi-motivasi yang kurang berkualitas, yang mungkin dimiliki seorang guru adalah ia mengajar sekolah minggu karena alasan-alasan sebagai berikut.

  • Ikut prihatin melihat keadaan sekolah minggu di gerejanya.
  • Ikut-ikutan teman mengajar anak-anak kecil.
  • Mencintai atau menyukai berdekatan dengan anak-anak.
  • Ingin belajar memahami dunia anak-anak.
  • Ingin menambah anggota gereja.
  • Karena diminta sahabat untuk membantunya mengajar di sekolah minggu.
  • Karena ingin melayani bersama pacar tercinta.
  • Karena pendeta dan orang tua meminta pelayanannya.
  • Ingin belajar melayani.
  • Ingin berlatih berorganisasi dan mengembangkan talenta melalui pelayanan (misal, talenta bermusik, bernyanyi, bercerita, dan lain-lain).
  • Ingin memiliki kelompok/teman.
  • Ingin ikut memajukan gereja.

Semua itu adalah motivasi yang baik, tidak salah, namun sifatnya sangat “jangka pendek”, tidak kuat dan mudah patah/hancur karena kurang berkualitas. Boleh dikatakan motivasi itu “dangkal” dan tidak mendalam. Karena itu, diperlukan motivasi yang lebih berbobot dan berkualitas, yang disebut motivasi rohani.

  1. Motivasi rohani merupakan pendorong pelayanan yang berkualitas.

    Seorang guru sekolah minggu perlu memiliki motivasi rohani, yaitu motivasi pelayanan yang tidak sekadar karena hal-hal jangka pendek dan dangkal, tetapi motivasi yang bersifat jangka panjang dan berakar kuat pada iman. Misalnya seperti di bawah ini.

    1. Ingin mengucap syukur dengan membalas kebaikan Kristus yang sudah rela mati di salib baginya. Sekalipun kita terbatas, tapi ungkapan syukur ini dipersembahkan dengan sepenuh hati dan tulus.

    2. Ingin memberikan persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah (Roma 12:1-2) melalui ladang pelayanan anak.

    3. Menjawab panggilan Tuhan untuk ikut menderita sebagai seorang prajurit Kristus (Filipi 1:29) yang berjuang bersama kuasa Kristus untuk merebut jiwa-jiwa itu dari tangan Iblis.

    4. Rela setia melayani sampai mati seperti teladan Kristus yang telah bersedia mati bagi manusia (Wahyu 2:10).

    5. Menjadi “kepanjangan tangan” Kristus yang membentuk para murid menjadi pelaku-pelaku firman dalam hidup sehari-hari.

    6. Ingin ikut membina dan membentuk anak-anak Allah agar mereka siap menjadi orang-orang percaya yang penuh iman, dan hidupnya menjadi kesaksian dan pelayanan bagi kemuliaan nama Tuhan.

    Motivasi-motivasi ini berbobot karena berdasarkan kasih kepada Kristus yang sudah mati bagi kita. Sebagai persembahan dan ungkapan syukur atas karya Kristus dalam hidup kita. Dari penghayatan akan kasih dan pengorbanan Kristus itulah motivasi rohani berakar, bertumbuh, dan terwujud dalam ungkapan syukur, yang diungkapkan dalam bentuk pelayanan kepada anak-anak.

    Bandingkan motivasi rohani dengan motivasi yang kurang berkualitas. Motivasi yang dangkal seperti contoh-contoh sebelumnya memang dapat menjadi titik awal perjumpaan kita dengan sekolah minggu, sebagai awal di mana kita berkenalan dengan dunia sekolah minggu. Sebagai motivasi awal, motivasi-motivasi tersebut boleh-boleh saja, tetapi harus segera diganti (disempurnakan dan dilengkapi) dengan motivasi rohani. Tanpa motivasi rohani, seorang guru hanya akan bertahan beberapa saat. Kalaupun ia bertahan, biasanya pelayanannya penuh masalah dan mudah patah di tengah jalan karena akar motivasinya begitu dangkal. Ia biasanya kurang bersemangat dan kurang total memberi diri untuk pelayanannya.

  2. Motivasi yang bengkok dapat dipakai Tuhan, asal ….

    Ada guru-guru tertentu memulai pelayanannya dengan motivasi yang bengkok, misalnya ia datang ke sekolah minggu (mungkin menjadi guru/guru bantu) karena:

    1. sekadar menemani pacar yang kebetulan guru sekolah minggu;
    2. terpaksa membantu mengiringi musik karena diminta teman;
    3. sambil menunggu adik yang sedang ikut sekolah minggu;
    4. mencari teman atau pacar, siapa tahu di antara guru ada yang cocok; bukankah guru merupakan calon suami/istri yang baik karena sayang kepada anak?
    5. daripada menganggur di rumah, lebih baik ada kegiatan.

    Sebagai titik awal kehadiran guru di kelas, motivasi tersebut tidak salah sama sekali karena masih dapat diperbaiki. Motivasi yang bengkok seperti ini masih dapat dipakai Tuhan, asal ia mau bertobat dan mengganti motivasinya dengan motivasi rohani yang berbobot.

    Jika ia tetap dengan motivasinya yang bengkok, guru semacam ini biasanya tidak bertahan lama. Ia akan cepat kecewa dan meninggalkan pelayanannya.

  3. Motivasi mewarnai sepak terjang pelayanan.

    Jika kita memiliki motivasi rohani, hal itu akan mewarnai sikap pelayanan kita. Seperti keyakinan kedua belas rasul dan Rasul Paulus dalam pelayanan yang tidak mengenal lelah, bahkan rela mati menjadi martir, atau rela menderita seperti ditunjukkan kedua belas murid, dan orang-orang percaya dalam kehidupan gereja mula-mula dan dalam sejarah gereja sepanjang abad. Kerelaan menderita dan setia sampai mati itu pastilah didorong oleh motivasi rohani dalam pelayanan.

APAKAH MOTIVASI ANDA MENJADI GURU SEKOLAH MINGGU?

Jika pertanyaan ini ditujukan kepada Anda, apa jawaban Anda? Tentu saja yang dimaksud bukanlah motivasi pertama datang ke sekolah minggu, melainkan apa motivasi saat ini. Mungkin motivasi pertama kita datang ke sekolah minggu bisa saja salah, bengkok, atau tidak berkualitas. Akan tetapi, sudahkah saat ini Anda memiliki motivasi rohani sebagai dasar pelayanan Anda?

  1. Motivasi demi Yesus.

    Suatu hari, saya melihat gembala sidang menangis tersedu-sedu saat melihat sebuah pergelaran drama Paskah berjudul “Demi Yesus di Gereja Kami”. Drama tersebut mengisahkan pengorbanan Yesus. Saya terkesan karena sebagai pendeta senior, ia tidak malu menangis tersedu-sedu di gereja. Akhirnya, saya tahu mengapa ia menangis.

    Pertama, ia merasa tidak layak melayani Tuhan yang sudah mengasihinya, bahkan sampai mati di kayu salib.

    Kedua, ia merasa “bersalah” tidak dapat melayani Tuhan dengan baik seperti pelayanan Tuhan kepada dirinya. Ia tetap merasa penuh dosa dan gagal melakukan firman Tuhan dalam hidupnya dan dalam hidup warga jemaatnya.

    Ketiga, sebagai pendeta ia melihat keteladanan penderitaan Yesus dalam pelayanan-Nya, sampai darah mengucur dan mati demi mengasihi manusia. Sementara penderitaannya sebagai pendeta belum seberapa, barulah sebatas mengucurkan keringat, waktu, tenaga, dan uang.

    Ketiga motivasi rohani inilah yang membuat ia dikuatkan lagi untuk melayani Yesusnya, demi Yesus …, ya demi Yesus aku relakan semua …, bila perlu sampai pengorbanan darah, sampai mati … demi Yesus ….

    Sudahkah kita memberikan yang terbaik bagi Dia yang sangat mengasihi kita?

  2. Motivasi cinta pada Yesus.

    Jonathan Edward bertanya kepada para calon pengabar Injil di Cina, “Apa motivasimu menjadi pengabar Injil?” Sebagian menjawab, “Karena saya ingin mempersembahkan jiwa-jiwa bagi Yesus.” Jawab Jonathan Edward, “Tidak cukup!” Terhadap pertanyaan yang sama sebagian lagi menjawab, “Saya ingin membawa Injil bagi sesama.” Yang lain lagi, “Saya ingin mengabarkan jalan keselamatan kepada sesama.” “Saya ingin bersaksi tentang Yesus Juru Selamat.” Tetapi semua jawaban tersebut ditanggapi Jonathan Edward dengan berkata, “Tidak cukup! Tidak cukup mengabarkan Injil dengan motivasi-motivasi seperti itu!” Mengapa? Jonathan Edward menjelaskan, “Motivasi terpenting dalam pelayanan adalah karena kita mencintai Yesus. Tanpa mencintai Yesus, pelayanan kita akan mudah patah dan jatuh di tengah jalan! “Apakah kalian mencintai Yesus?” Pertanyaan Jonathan Edward itu juga berlaku bagi kita semua guru sekolah minggu. Apakah kita mencintai Yesus? Mengapa kita menjadi guru sekolah minggu? Tidak cukup jika kita mencintai anak, ingin memberitakan Injil,, atau membina dan mengajar anak. Kita harus mencintai Yesus. Dengan cinta kita kepada Yesus itulah kita memiliki kekuatan hati seorang hamba Tuhan.

    Karena cinta Allah kepada dunia ini, Ia merelakan Anak-Nya yang tunggal (Yesus Kristus) untuk mati menebus dosa (Yohanes 3:16). Kerena cinta juga Yesus rela mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia.

    Karena cinta merupakan motivasi untuk melayani, Yesus bertanya kepada Petrus, “Simon anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” dan pertanyaan ini diulang hingga tiga kali. Petrus menghayati cintanya kepada Yesus sehingga ia menjadi hamba Tuhan yang begitu hebat dan setia. Ia bahkan menjadi martir. Apakah Anda guru sekolah minggu yang mencintai Yesus?

Apakah cinta Anda sebagai guru sekolah minggu adalah cinta yang sejati kepada Yesus, seperti Yesus mencintai kita? Jika cinta Anda kepada Yesus adalah cinta sejati, seberapa besar pengorbanan yang Anda rela lakukan demi Yesus yang Anda cintai?

Sumber:
Mereformasi Sekolah Minggu: 8 Kiat Praktis Menjadikan Sekolah Minggu Berpusat pada Anak, Paulus Lie, , halaman 79 — 85, PBMR Andi, Yogyakarta, 2003.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: